Fri04182014

Last update02:46:38 PM GMT

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel
Back Serba-Serbi Pariwisata Pesona Alam Fulan Fehan Dibalik Puncak Lakaan

Pesona Alam Fulan Fehan Dibalik Puncak Lakaan

ATAMBUA, BeritAnda - Kabupaten Belu merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Negara Timor leste. Selain sebagai wilayah perbatasan antar Negara RI – Timor Leste, juga memiliki berbagai potensi sumber daya alam yang dapat diandalkan sebagai lokasi kawasan wisata bahari yang memiliki beraneka ragam keunikan dan keindahan alam yang mempesona.

Dari semua potensi wisata alam yang ada di Kabupaten Belu, potensi keindahan alam padang Fulan Fehan yang terletak diujung Timur Negeri Indonesia tepatnya di Weluli - Kecamatan Lamaknen juga tidak kalah dengan pesona alam di Kabupaten lain.

Anda dapat menjumpai alam terbuka hijau dan dapat menikmati kesejukan alam padang Fulan Fehan. Selama ini ternyata banyak warga Belu telah bepergian mengisi waktu libur bersama keluarga dan sambil melihat ciptaan Tuhan yang indah dibalik gunung Lakaan itu. Untuk menuju lokasi wisata alam itu dari Kota Atambua ibu kota Kabupaten Belu ke lokasi itu berjarak kurang lebih 26 km bila ditempuh melalui jalur jalan Desa Halibete – Maudemu dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Sementara jalur alternative lainnya dapat ditempuh melalui jalur akses jalan propinsi menuju perbatasan Lamaknen dibutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam atau sekitar 36 km. Kedua akses jalan itu saat ini dapat ditempuh dengan kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Lokasi itu oleh kalangan warga Lamaknen dan sekitarnya menyapanya dengan nama sebutan “Fulan Fehan”. Lokasi ini merupakan Salah satu lokasi yang menjadi primadona warga setempat karena memiliki pesona alam yang indah. Letaknya persis di ketinggian puncak gunung Lakaan padang Fulan Fehan terapit diantara Desa Dirun dan Maudemu yang mana hingga saat ini fulan fehan masih tetap dimiliki kedua warga desa tersebut.

Fulan Fehan dikenal kalangan masyarakat wilayah Lamaknen dan sekitarnya merupakan sebuah tempat yang memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri sebab menurut para orang tua padang itu sudah ada sejak zaman dulu kala dari nenek moyang dan mempunyai salah satu tempat sakral yang biasanya disebut kikit, karena sering dijadikan tempat ritual oleh masyarakat. Sementara itu Fulan Fehan sangat diistimewakan karena memiliki beberapa jenis keunikan seperti tempat situs bersejarah masa peninggalan zaman perang. Keberadaan yang dibatasi oleh gunung lakaan, benteng perang makes yang memiliki tujuh tangga, tumbuhan kaktus, serta jurang yang terjal semakin membuat Fulah Fehan terlihat indah seperti padang golf. Selain terdapat tanah merah dan putih padang tersebut hampir setiap harinya diselimuti oleh kabut tebal.

Ditumbuhi rerumputan hijau dan lebat yang membentang luas, padang itu selalu dihuni oleh hewan-hewan liar seperti kuda, kerbau dan kambing. Selain ternak-ternak liar itu ada juga ternak milik masyarakat dari kedua desa tersebut. Bentuk yang rata serta berbukitan terdapat juga sebuah telaga kecil yang terletak ditengah-tengah padang itu. Keberadaan telaga itu membuat hewan-hewan liar dan hewan milik masyarakat memilih untuk dijadikan tempat tinggal.

Yohanis Ikun salah satu putra kelahiran Desa Dirun-Maudemu kepada BeritAnda.com, Minggu (4/11/2012) mengatakan, Fulan Fehan atau yang sering disebut kalangan masyarakat Belu umum sebagai padang golf-nya Kabupaten Belu sudah ada sejak zaman dahulu kala. “Fulan Fehan itu bukan ciptaan manusia tetapi itu merupakan keajaiban alam yang diciptakan tuhan. Fulan Fehan itu panorama alam yang asli dan sudah ada sejak zaman nenek moyang,” tutur Ikun.

Menurut Ikun, padang Fulan Fehan selain memiliki panorama alam yang indah dan letak yang setara dengan puncak gunung lakaan, terdapat juga beberapa tempat yang memiliki keunikan dan keistimewaan, seperti tempat untuk ritual yang disebut kikit, tujuh tangga yang terdapat di benteng makes, tumbuhan kaktus, tanah merah, tanah putih, benteng perang, dan bebatuan karang.

”Jadi Fulan Fehan itu memiliki banyak keunikan dan keistimewaan yang masih ada sejak dulu sampai sakarang dan tetap masyarakat masih menjaga kelestariannya sejak turun temurun,” beber Ikun.

Pada jaman dahulu kala padang tersebut menjadi milik masyarakat Lamaknen pada umumnya. Tetapi seiring dengan perkembangan dunia hingga pembagian wilayah menjadi desa, padang Fulan Fehan berada diantara Desa Dirun dan Maudemu. Terletak diantara kedua desa, padang Fulan Fehan tetap dimiliki oleh warga kedua desa sebab masyarakat masing-masing masih melihat wilayah mereka tergabung dalam satu kerajaan yang terbentuk sejak zaman dulu.

“Sampai saat ini Fulan Fehan tetap dimiliki oleh kedua desa dan itu sudah dalam sejarah nenek moyang karena satu kerajaan,” tambahnya.

Terkait panorama alam Fulan Fehan yang sudah semakin terkenal bahkan sampai ke kalangan dari luar kabupaten Belu, dirinya meminta agar secepatnya pemerintah daerah dapat melihat dan memperhatikan panorama alam yang terdapat di kabupaten Belu.

“Sebaiknya pemerintah harus cepat melirik panorama alam yang dimiliki Fulan Fehan, sebelum para investor luar datang,” ujar Ikun.

Keindahan yang dimiliki padang Fulan Fehan sangat mempesona dengan berbagai keunikan apalagi adanya situs peninggalan benteng di zaman perang yang memiliki tujuh tangga. Selain itu terdapat juga lokasi Balokama yang terletak sejajar dengan fulan fehan di bagian sudut benteng makes atau persisnya belakang gunung lakaan. Keindahan padang Balokama memiliki kesamaan dengan padang Fulan Fehan yang banyak di kelilingi tumbuhan kaktus, batuan karang juga ternak-ternak baik liar maupun milik masyarakat.

Lebih lanjut dikatakan para pengunjung yang datang sekedar untuk rekreasi hampir setiap hari dalam setahun ini ketimbang tahun-tahun yang lalu. Mereka yang datang untuk melihat lebih dekat biasanya melakukan rekaman untuk membuat klip lagu dan ada juga yang sekedar foto-foto sambil menikmati keindahan alam yang terasa dingin karena kabut yang selalu menyelimuti padang tersebut.

Panorama alam Fulan Fehan yang terdapat di puncak gunung lakaan itu baru mulai di kenal kalangan luar semenjak 10 tahun terakhir. Terkait hal tersebut dirinya mengharapkan agar pemerintah daerah secepatnya dapat melakukan atau menjadikan padang Fulah Fehan menjadi obyek wisata bahari karena apabila keindahan alam itu tidak diperhatikan sejak sekarang maka selamanya Fulan Fehan tidak akan dikenal di luar pulau timor.

“Ini asset yang baik bagi daerah dan kalau bisa pemerintah kabupaten Belu dapat menjadikan padang Fulan Fehan menjadi obyek wisata bahari,” harapnya.

Pantauan BeritAnda.com di puncak gunung lakaan nampak keindahan Fulan Fehan tidak bisa disangkal. Hamparan padang yang luas ditumbuhi rerumputan dan berbukit kecil membuat pesona makin indah. Letak yang terapit diantara benteng makes dan gunung lakaan serta di kelilingi jurang yang ditumbuhi tanaman kaktus dan batu karang membuat Fulan Fehan sebagai sentral panorama alam.

Suasana makin bertambah dingin dengan hembusan angin yang keras dan tebalnya kabut yang turun. Terlihat dengan jelas dari padang tersebut ibu kota Atambua, perkampungan di wilayah batas dengan Distrik Maliana Timor Leste. Kalau di puncak gunung wijaya yang ada di Papua memiliki keindahan dengan saljunya tapi tidak berbeda jauh keindahan panorama alam bahkan lapangan golf sekalipun karena padang Fulan Fehan juga memiliki pada seluas lapangan golf. (Parada)

Site Launch
Site Launch