Thu04242014

Last update08:48:33 PM GMT

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel
Back Nusantara Nusa Tenggara Timur Pelajar SDN Kiuloni Takari Sekolah Diemperan Rumah Warga

Pelajar SDN Kiuloni Takari Sekolah Diemperan Rumah Warga

KUPANG, BeritAnda - Impian meningkatkan kualitas pendidikan generasi muda bangsa sepertinya hanya sebuah utopia negeri ini semata. Pasalnya, kepedulian pemerintah terhadap peningkatan sarana prasarana sekolah terkesan masih kurang serius. Seperti yang dialami puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kiuloni Kecamatan Takari Kabupaten Kupang yang terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya di emperan rumah warga lantaran sekolah darurat yang ambruk dihantam angin kencang tak kunjung diperbaiki sejak akhir tahun lalu.

Janji-janji untuk segera memperbaiki bangunan sekolah yang juga dibangun darurat rupanya tinggal janji yang menghias mimpi anak-anak generasi penerus bangsa yang menyimpan banyak potensi emas yang bisa memajukan bangsa ini.

Meski harus berjalan kaki hingga dua kilometer setiap pagi tapi para siswa SDN Kiuloni Desa Tua Panaf bergegas melangkahkan kakinya meski yang dituju bukan sekolah megah  namun cuma emperan rumah sederhana milik warga.

Tak ingin membuang waktu, mereka langsung menyapu lantai emperan teras rumah warga yang dijadikan sebagai ruang kelas agar terlihat bersih dan nyaman untuk mendengarkan pelajaran dari para guru mereka.

Sejumlah perabotan sekolah yang sederhana ditata dengan baik yang disesuaikan dengan luass teras rumah. Tak banyak,  cuma lima buah meja reyot dan bangku tua untuk para murid dan sebuah papan tulis dari tripleks yang sudah tak ada cat hitamnya.

Usai bersih-bersih, para siswa pun berbaris untuk berdoa sebelum memulai pelajaran.

Usai berdoa, dengan wajah gembira tunas muda bangsa ini memasuki ruang kelas dan mulai belajar. Beberapa buku pelajaran yang mulai usang dibaca dengan tekun.

Sejumlah siswa kelas lima yang tidak mendapat tempat di teras rumah warga memanfaatkan halaman rumah untuk belajar, berlindung dibawah rindangnya pohon.

Salah seorang siswa kelas lima yang mengaku bernama Thobias mengaku, meski sedih dan kerap terganggu dirinya bersama teman-temannya terus ingin belajar dan bermimpi segera memiliki ruang kelas meski sederhana.

David yang halaman rumahnya digunakan para siswa sebagai taman belajar juga merasa prihatin dan sedih namun dirinya dan warga desa tak bisa berbuat banyak karena dirinya bukanlah orang dari golongan warga mampu dan berduit.

Segala keterbatasan yang mendera hasrat menggebu para siswa untuk menimba ilmu seperti tak terlihat ketika antusiasme siswa mengikuti penjelasan guru begitu menggebu kendati papan tulis kalau mau digunakan harus dipegangi oleh beberapa siswa.

Imelda, seorang guru honor yang sudah mengajar selama lima tahun mengaku cemas dengan kondisi ini karena daya serap anak-anak menurun akibatsering terganggu saat pelajaran. Apalagi dua kelas digabung jadi satu karena tak semua rumah warga memiliki emperan. Kondisi ini bertambah prihatin saat hujan turun lantaran para siswa pasti berdesak-desakan.

Kondisi ini membuatnya kuatir karena kualitas siswa menurun dan hanya bisa pasrah dan berharap agar pemerintah tidak terus menutup mata terhadap kondisi ini.

Sejak Bulan November Tahun 2011 silam bencana angin kencang merobohkan bangunan sekolah yang berdinding bebak dan beratap daun lontar hasil swadaya  warga Desa Tuapanaf. Warga sebenarnya sudah berinisiatif membangun kembali gedung sekolah  meski tetap darurat. Namun janji pemerintah untuk menyumbangkan bahan bangunan  membuat pembangunan lima ruang kelas hingga kini terbengkalai. Hanya terlihat kerangka bangunan dari bahan bekas bagunan lama yang masih bisa dipakai kembali.

Yosafat salah seorang warga setempat mengaku, meski kecewa dengan janji-janji bohong Pemerintah Kabupaten Kupang, warga kini hanya bisa pasrah dan berharap uluran tangan dari para dermawan untuk bisa membantu pembangunan ruang kelas, apalagi ujian akhir semester sudah di depan mata. (kok)

Site Launch
Site Launch