Wed04232014

Last update02:11:54 AM GMT

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel
Back Nasional Keamanan Sejumlah Tokoh Sikapi Pancasila Dengan Puisi

Sejumlah Tokoh Sikapi Pancasila Dengan Puisi

  • PDF

-Pancasila tidak cukup sebatas puisi-

JAKARTA, BeritAnda - Sejumlah tokoh nasional, Jumat (1/6/2012) malam berkumpul dihalaman kantor PP Muhammadiyah yang berada di Jalan Menteng, Jakarta Pusat untuk mengikuti acara Pengajian Bulanan Pimpinan Pusat Muhammadiyah : Pancasila Dalam Puisi.

Sesuai tema acara, para tokoh yang hadir umumnya membacakan puisi atau sekedar berorasi tentang Pancasila dan kondisi bangsa.

Tampak hadir dalam jajaran para tokoh yang hendak membacakan puisi atau orasi tentang Pancasila, diantaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang juga mantan Ketua MPR RI Amien Rais, Mantan Ketua MK Jimly Ashidiqie, dan dan dari MUI H.Achmidan, serta politisi dari PAN AM. Fatwa.

Dalam orasi mantan ketua umum Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshidiqie membandingkan pemberian grasi dari pemerintah tehadap Narapidana kasus narkoba (sabu) Qorby dengan mantan Presiden Soekarno yang sampai kini masih masih dihubung-hubungkan dengan dengan ajaran komunis.

Padahal menurut Jimly, pemberian grasi sebenarnya masih lebih penting diberikan kepada Bung Karno terkait dengan sejarah kelahiran bangsa, daripada diberikan kepada Qorby. Tentunya dalam memberikan grasi kepada Bung Karno pemerintah harus berkonsultasi dengan MA. "Memberikan grasi kepada Bung Karno berarti kita sudah menghargai jasanya," ujarnya.

Diatas panggung, Jimmly bahkan sempat menutup orasinya dengan membacakan sebuah puisi berjudul: Kita adalah pemilik sah Republik ini.

Sementara itu, mantan ketua umum PP Muhammadiyah Amien Rais berorasi tentang Arab Spring dan kondisi di Indonesia saat ini.

Menurutnya,  Arab Spring sebenarnya bukanlah musim semi tapi yang terjadi justru pergolakan. Penyebabnya adalah karena rakyat marah dengan pemimpin mereka yang sangat haus kekuasaan dan tidak pernah mau mendengarkan suara rakyat maupun nasehat-nasehat yang ada.

Begitupun dengan pemimpin kita yang enggan mendengarkan nasehat dari orang-orang disekitarnya. Adalah sebuah kebodohan ketika aset alam kita (uranium, batubara,dll) dibawa keluar negeri tetapi kita diam saja. Kita ini bangsa yang terjajah, yang tidak memiliki apa-apa untuk diwariskan pada anak-cucu.

Mantan ketua umum PBNU, KH Hasyim Muzadi secara panjang lebar mengupas makna Pancasila yang sesungguhnya kini mulai bergeser. "Pancasila sebenarnya untuk mengoreksi sekaligus mengatur nilai-nilai. Semua agama dasarnya berketuhanan, berkemanusiaan, kekeluargaan, ingin berdemokrasi dan berkeadilan. Pancasila merupakan potret Indonesia," ujar Hasyim Muzadi.

Tapi sekarang Pancasila berubah menjadi: Ketuhanan YME menjadi keuangan yang maha kuasa, maka yang ada 'transaksi', bahkan sampai demopun juga ada transaksi. Kemanusiaan sekarang jadi kemunafikan, yang adil dan beradab sudah tidak ada lagi. Jika HAM adalah kemanusiaan maka seharusnya berkeadilan, tapi kalau HAM versi barat maka kita bisa sewaktu-waktu dikenakan pelanggaran HAM. Pada sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan.

Hasyim menilai Pancasila adalah pondasi, jadi tidak seharusnya dijadikan pilar (4 pilar). "Jika Pancasila yang selama ini menjadi pondasi lalu diangkat menjadi salahsatu bagian dari  4 pilar, berarti kita sudah tidak punya pondasi lagi," ungkap Hasyim.

Menyikapi pola kepemimpinan dan demokrasi yang ada, Hasyim mengatakan bahwa demokrasi adalah kerakyatan, namun yang ada sekarang ini rakyat dipermainkan oleh pemimpinnya. "Jika kepemimpinan sudah hilang, maka 'hikmat'-pun tidak akan ada.

Apalagi untuk pemilu legislatif, begitu banyak yang harus dipilih oleh rakyat, sementara rakyat tidak kenal pemimpin yang akan dipilihnya. Rakyat hanya kenal sembako yang diberikan oleh pemimpinnya saat kampanye," ujar Hasyim.
Acara ditutup dengan pembacaan puisi yang berjudul
Pancasila, Mudah-mudahan Masih Ada dibawakan oleh mantan ketua PAN Sutrisno Bachir. Dalam puisi itu, sesuai judulnya Sutrisno Bachir mempertanyakan apakah keberadaan Pancasila masih ada dinegeri ini.

Sementara pencitraan seolah begitu diagung-agungkan, rakyat tergusur dari kekuasaan, dan hukum yang lebih berpihak pada kekuasaan atau hanya pada segelintir orang. Sebagai tuan rumah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin dalam pidato penutup acara mengingatkan bahwa Pancasila tidak cukup hanya sebatas puisi.

Muhammadiyah telah banyak menyumbang dan turut andil dalam perjuangan bangsa. Maka kita harus turut bertanggung jawab ketika Pancasila mulai terdistrosi. Muhhamadiyah harus berjihad konstitusi. Amandemen UUD 1945 ke-5 justru yang menyelewengkan Pancasila, terutama dengan UU Migas kita sudah menjual tanah air, dan membuat negara kita menjadi terpuruk. (Andini)

Site Launch
Site Launch